You're Beautiful (Cover) - Karonese World Music

Rabu, Mei 01, 2013

Mikro Ekspresi

Mikro ekspresi itu adalah ekspresi kilat di wajah seseorang yang berlaku sepersekian detik dan kurang dari 25 detik yang bisa mengungkapkan emosi yang sebenarnya dirasakan seseorang. Micro Expression atau Ekspresi yang tak begitu nampak, untuk orang pada umum nya tidak begitu penting, tetapi bisa mengungkapkan banyak hal. 7 dasar Micro Expression, yang sering agan temuin di kehidupan kita.
 

Senin, Maret 26, 2012

Panganan Khas Karo


Jaung Labar adalah salah satu kue tradisional dari Karo (Sumatera Utara) yang terbuat dari jagung manis yang telah dihaluskan dan dicampur dengan kelapa parut dan gula merah lalu dibungkus kembali dengan kulit jagung manis dan dikukus.
[Sebelumnya untuk diketahui, dalam bahasa Karo:
Jong / Jaung = Jagung
Jong / Jaung Labar = Kue berbahan jagung yang dibungkus kulit jagung dan dikukus]

Bahan – bahan / Bumbu – bumbu :
250 gram jagung manis pipil, dihaluskan
100 gram kelapa setengah tua, dikupas, diparut kasar
¼ sendok teh garam
Kulit jagung (untuk membungkus)

Cara Pengolahan :
1.     Aduk rata (jagung, kelapa, gula, dan garam)
2.     Sendookan ke kulit jagung (bungkus dikulit jagung berbentuk persegi panjang)
3.     Kukus hingga matang
 [bahan untuk 13 bungkus]

Sumber: http://www.sajiansedap.com

Kamis, Maret 15, 2012

Profesi Orang Karo Zaman Dahulu




Inilah beberapa profesi tradisional Orang Karo :
1. Perlanja Sira
Di zaman dulu karena letak tanah Karo di dataran tinggi yang jauh dari pantai Timur dan pantai barat Sumatera, sangatlah susah untuk mendapatkan garam yang merupakan kebutuhan penting. Dalam banyak cerita tradisi lisan Karo, perlanja sira banyak di sebut-sebut. Profesi ini harus membawa garam dengan memikul dari kampung2 melayu di pesisir timur sumatera (sekitar hamparan perak dan deli tua) , berjalan melewati hutan lebat di bukit barisan mengahadapi resiko diserang binatang buas dan di rampok (karena garam adalah barang mewah saat itu). Untuk mencapai tanah Karo melalui jalan di lereng bukit barisan biasanya makan waktu 4 hari jalan kaki. Cerita perlanja sira biasanya diajarkan sebagai pengajaran akan kebijakan, kegigihan, kesabaran, sopan santun dan tolong menolong. (Profesi ini sudah punah sejak tahun 1940an karena Belanda membangun jalan yang bisa dilalui oleh moda transportasi tradisional dan modern dan semakin berkembangnya transportasi.



2. Dukun Patah
Profesi ini masih banyak di Tanah Karo. Dukun patah biasanya dari Kampung Pergendangen. Dukun patah yang paling terkenal adalah Gurusinga (dikenal juga di Jakarta) dan Pergendangen. Dukun patah biasanya mempunyai ramuan minyak urut rahasia yang dibuat sendiri dan diwariskan turun temurun.



3. Pande besi
Ialah orang yang mempunyai keahlian membuat berbagai macam alat dari besi/logam, berupa senjata, alat2 dapur dan terutama alat2 pertanian. Masih ada di beberapa kampung, yang saya pernah saya dengar ada di desa Ujung Bawang.



4. Pande emas
Ialah Orang yang ahli membuat perhiasan dari emas, dengan bebagai macam jenis ukiran dan keahlian yang berbed-beda. Yang paling terkenal adalah Milala.



5. Pande rumah
Tukang bangunan, mempunyai keahlian mendirikan rumah adat dan rumah biasa. Sekarang yang punya keahlian mendirikan rumah adat tidak ada lagi, suatu kehilangan yang menunjukkan ketidakpedulian kita pada regenerasi ilmu.



6. Pande Gamber
Keahliannya membuat gamber (gambir) untuk campuran makan sirih.



7. Pande mayang
Profesinya membuat mayang untuk campuran makan sirih.



8. Pande mbako
Profesinya membuat mbako (tembakau) untuk campuran makan sirih dan rokok, masih ada di beberapa kampung seperti di Kempawa



9. Perjuma-juma :
Petani yang memiliki kebun/ladang/sawah, adalah profesi umum.



10. Perminak-minak
Profesi ini juga masih ada, membuat minyak urut atau minyak meseng (terbakar), minyak gelanggang (untuk menguatkan otot2), dari ramuan rahasia yang diwariskan turun temurun. Perminak-minak membuat minyak dan menjualnya tanpa menjadi dukun.



11. Pertawar-tawar
Profesi ini juga masih ada sampai sekarang, pertawar-tawar membuat tawar (obat dalam bentuk jamu/kuning) untuk menambah nafsu makan, nafsu sex, mengobati penyakit dalam, mengobati keracunan. Pertawar-tawar biasanya tidak membuat minyak, tapi ada juga yang membuat minyak (merangkap perminak-minak)



12. Perkolong-kolong
Orang yang mempunyai bakat dan keahlian menyanyikan lagu-lagu tradisional karo dan menari dengan baik dan benar. Perkolong-kolong biasanya mengisi acara2 adat Karo, bersama dengan rombongan gendang/penggual (group musik tradisional)



13. Penggual
Adalah sebutan kepada keseluruhan pemain musik tradisional Karo yang terdiri dari beberapa pemain alat musik tradisional Karo seperti perkulcapi (pada kecapi tradisional), penarune (suling tradisional), pergung (pada gong besar dan kecil), profesi ini masih ada, namun dikhawatirkan regenerasinya, karena generasi muda malas bersentuhan dengan musik tradisional seperti ini, apalagi sejak dipakainya Keyboard secara umum.



14. Perengge-rengge
Dulu tidak setiap desa/kampung punya pasar/pekan dan belum mengenal warung. Pasar/pecan yang ada pun hanya buka sekali seminggu, dan saat itulah penduduk dari berbagai kampung berkumpul untuk bertransaksi. untuk membeli kebutuhan pokok dan lainnya penduduk desa harus berangkat ke kampung yang mempunyai pasar/pecan. Perengge-rengge adalah pedagang yang yang selalu berkeliling dari pasar/pekan ke pasar/pecan lainnya. Perengge-rengge biasanya adalah wanita, karena zaman dulu pria sama sekali tidak bekerja, semuanya dikerjakan oleh wanita. Kalau hari selasa perengge-rengge akan ke Tigabinanga karena pasar di Tigabinanga diadakan tiap hari selasa, rabu dia ke berastagi, kamis dia ke kabanjahe, jumat dia ke Lau Baleng, sabtu dia ke Pancurbatu. Sekarang sebutan perengge-rengge diberikan kepada pedagang wanita di pasar2 tradisional, walaupun mereka tidak berpindah-pindah pasar lagi.



15. Perbinaga
Pedagang yang hanya berjualan di satu pasar/pekan, dan tidak berpindah-pindah seperti perengge-rengge



16. Perkede
Orang Karo adalah orang yang menikmati hidup dan demokratis, rasanya hampir semua pria di tanah Karo pasti menikmati berbincang-bincang, bermain catur, dadu, dan banyak jenis judi (yang memang secara tradidional dikenal dari zaman dulu) di kede/warkop. Sejak dulu kalak karo mengenal warkop/kede sebagai tempat berkumpul, seperti di sinetron berlatar zaman dulu. Perkede adalah sebutan untuk yang empunya kede atau orang yang melayani di kedai.



17. Permakan
Orang yang pekerjaannya menggembalakan kerbau, lembu, kambing dan biri-biri.



18. Permanuk-manuk
Orang yang pekerjaannya memelihara ayam dan itik



19. Perburu
Orang yang pekerjaannya berburu di hutan, yang biasanya diburu adalah rusa, kancil, ayam hutan, burung, wili (babi hutan), bengkala (monyet), dll



20. Perbarung
Orang yang pekerjaannya menunggui ladang/kebun untuk menjaga tanaman agar tidak diambil/dipanen orang lain.



21. Guru sibaso
Profesi ini masih ada. Seiring dengan perkembangan agama semua profesi guru drastic berkurang karena konotasinya magis. Biasanya mereka tidak mau dipanggil guru seperti dulu yang merupakan panggilan kehormatan seperti halnya panggilan “dokter”



22. Guru si niktik wari
Dukun yang bisa mengetahui hari baik dan hari buruk, tanda kelahiran, perjodohan berdasarkan hari kelahiran (berdasarkan kalender karo) dan nama, dll. Zaman dulu untuk mengadakan acara adat wajib bertanya pada guru si niktik wari ini, sekarang juga masih ada yang percaya. Profesi ini masih ada.



23. Guru ndikkar
Orang yang memiliki keahlian bela diri ndikkar Karo, zaman dulu biasanya profesi ini menjadi pengawal pengulu/sibayak di Tanah Karo.



24. Guru
Setiap kampung di tanah Karo pasti memiliki dukun yang bisa mengobati berbagai macam penyakit berdasarkan keahliannya masing2. mereka biasanya menggunakan minyak urut dan atau tawar yang dibuat sendiri yang ramuannya diambil dari hutan kampung. Guru ini mungkin seperti dokter umum kalau dalam pengobatan modern sekarang, sementara guru siniktik wari dan guru sibaso itu dokter spesialis.



25. Guru mbelin (Guru besar)
Dukun Karo zaman sekarang biasanya tidak mau di panggil dengan sebutan Guru Mbelin, karena profesi ini berkonotasi negative. Zaman dulu sebutan guru mbelin bisa membuat orang bergidik karena ia dipercaya punya kesaktian yang lebih dari guru lainnya.



Sebenarnya masih banyak profesi yang digeluti oleh masyarakat karo tradisional, bagi teman-teman yang tau selain yang diatas dan bila ada kesalahan mohon di beri tahukan,,,Bujur ras mejuah-juah..

(sumber: Portal Karo)

Tambar (Obat) Khas Karo (2)

Pengobatan Karo Lainnya

Tawar Penggel(Pengobatan Patah Tulang)

Pengobatan patah tulang ini dilakukan oleh seorang guru(tabib) melalui cara dan berbagai obat-obatan. Tawar Penggel ini termasuk pengobatan dari berbagai jenis penyakit yang berkaitan dengan urat, otot, dan tulang seperti terkilir, keseleo, tulang bergeser, salah urat, patah tulang sampai tulang remuk. Prosesnyapun tidak serumit di rumah sakit dimana harus dironsen atau jika dianggap tidak mungkin ditolong maka dilakukan amputasi. Lain halnya dengan Tawar Penggel ini, sang guru hanya melihat tulang atau urat yang bermasalah kemudian menyentuhnya dan mengembalikannya dalam sekali sentuhan saja. Setelah itu diolesi minak(minyak urut) yang diramu oleh guru tersebut.

Oukup

Oukup atau mandi uap adalah sejenis pengobatan yang dibuat untuk mpetuai (mempercepat penuaan) bagi ibu yang baru melahirkan. Namun, akhir-akhir ini Oukup berkembang menjadi pengobatan bukan hanya bagi ibu yang baru melahirkan tapi bisa bagi siapa saja. Ramuannya terdiri dari puluhan jenis jeruk, puluhan jenis akar-akaran hutan, puluhan jenis daun-daunan hutan yang direbus dalam priuk kemudian dapat dipakai.

Kesaya

Kesaya adalah jenis tawar(tambar) yang dibuat untuk mengobati masuk angin dan meningkatkan nafsu makan. Kesaya ini terdiri dari bahan-bahan yang umumnya adalah bumbu dari dapur seperti bawang merah dan putih, alia(jahe), lada, daun-daun hutan, garam dan air perasan batang asam patikala.

Dampel

Dampel adalah air dari perasan daun-daunan dari ladang, umumnya digunakan untuk mengobati gatal-gatal, alergi dan anti nyamuk. Ada juga dampel yang bahannya daru daun-daun di sekitar halaman rumah yang fungsinya adalah sama.

Surung-Surung

Surung-surung adalah obat yang digunakan bagi anak yang baru lahir dan ibu yang baru melahirkan fungsinya adalah mpetuai daging(menguatkan otot-otot ibu dan bayi) juga unutk menghangatkan badan. Bahan surung-surung adalah daun sirih, gambir, kapur, lada dan jahe.

Sembur

Sembur adalah obat yang terdiri dari beras, daun-daunan hutan, jahe, lada, jerangau, pala, dan akar-akaran dari tanaman obat yang semuanya digongseng kemudian ditumbuk tidak terlalu halus. Cara memakainya yaitu disemburkan ke bagian tubuh yang dianggap perlu. Sembur ini memiliki manfaat yaitu antara lain mengobati masuk angin, sakit perut, perut.

Kuning

Kuning adalah sejenis obat yang berbahan dasar dari beras(tepung beras khusus), kesaya dan daun-daun obat. Ada banyak jenis kuning dalam masyarakat Karo, namun secara garis besar dapat dibagi kedalam beberapa bagian yaitu:

- Kuning las yaitu yang bermanfaat untuk menghangatkan badan

- Kuning bergeh yaitu yang bermanfaat untuk penyakit salah makanan, sakit perut, atau sakit yang tiba-tiba.

- Kuning serdang yaitu bermanfaat untuk gatal-gatal, disengat serangga, alergi, bengkak atau penyakit yang datang tiba-tiba.

- Kuning agi-agi yaitu untuk anak yang baru lahir.

Tambar penguras atau obat tetanus

Bahan-bahannya tidak diketahui seluruhnya tapi terdiri dari ratusan jenis dedaunan dan akar-akaran dari hutan. Kemudian bahan tersebut dijemur kemudian ditumbuk sampai halus untuk pemakaiannya dicampur dengan air dari perasan pelepah pohon pisang sitabar dekah. Pada saat sekarang ini obat ini dicampur dengan alcohol kadar rendah(12-19%).

Tambar sentriin-belbelen/disentri-berak darah-ambeyen

Bahannya adalah kudung-kudung galuh sileyuh(jantung pisang si leyuh). Caranya jantung pisang dibelah empat vertical kemudian direbus dengan sedikit garam, air saringan inilah yang digunakan sebagai obat disentri tersebut.

Minak alun(minyak urut)

Minak alun umumnya berbahan dasar minyak kelapa dan kempayang(daun-daun obat). Biasanya digunakan untuk urut/pijat, juga digunakan oleh guru tawar penggel(dukun patah), juga untuk dipakai sehari-hari. Minak alun diracik oleh orang-orang tertentu, umumnya memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat biasa dan juga biasanya adalah dilakukan turun-temurun/keturunan pembuat minyak urut.

Alun(urut)

Alun adalah pengobatan yang bertujuan untuk menormalkan fungsi otot dan urat(aliran darah). Perbedaannya dengan tawar penggel adalah alun terbatas pada pemulihan fungsi otot atau urat, juga karena salah susunan usus karena hal-hal tertentu. Alun sesungguhnya tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang karena dapat berakibat buruk. Alun juga dapat dilakukan untuk memperbaiki peranakan, saluran rahim, pengangkatan rahim, aborsi, demikian juga untuk laki-laki dewasa yang bermasalah dengan kelainan fungsi seks.

Baja

Baja adalah obat yang digunakan untuk mengobati sakit gigi atau sakit tulang lainnya. Bahannya adalah batang pohon jeruk atau kemiri, bahan tersebut dibakar di bara api kemudian digesek-gesek ke besi atau parang sampai menghasilkan minyak. Minyak tersebutlah dinamai baja, pemakaiannya yaitu dimasukkan ke gigi yang sakit. Untuk sakit tulang cara pemakaiannya yaitu mengikuti jalur ring-ring(sekeleton dan sendi).

Jenis-jenis penyakit dalam masyarakat Karo yang lain adalah:

- Penakit mula jadi(sawan)

- Aji-aji(kanker)

- Pustab(rematik)

- Penakit Beltek(penyakit di perut)

- Pusuhen(sakit jantung)

Nama-nama daun-daun yang digunakan sebagai obat pada masyarakat Karo:

- Gagaten arimo

- Gagaten imbo

- Tawar sedarih

- Kapal-kapal tawar ipuh

- Kapal-kapal gara tundal

- Kapal-kapal ergilen urat

- Kapal-kapal bilalang manuk

- Bulung-bulung tengah juma(seluruh dedaunan di ladang)

- Surat Dibata

- Besi-besi

- Sangke sampilet

- Silebur kumpa

- Lancing

- Dagang

- Siberani

- Penggel kuda.

Nama-nama akar-akaran yang digunakan sebagai obat pada masyarakat Karo:

- Akar sibaguri

- Akar padang teguh

- Asar-asar

- Dll.

Sumber:

Gintings, E.P. 1999. Religi Karo. Kabanjahe: Abdi Karya.